2.1 Tugas dan
Fungsi Manajer
Manajer adalah pimpinan atau
pemimpin suatu organisasi. Karena manajer berhubungan langsung
dengan pengambilan keputusan, paling tidak, seorang manajer harus
memiliki keterampilan konseptual yang
merupakan keterampilan memahami dan mengelola organisasi, keterampilan manusiawi yaitu
keterampilan melakukan kerjsama, memotivasi dan membangkitkan etos kerja
pegawai; dan keterampilan teknis,
yaitu keterampilan mengoperasikan alat-alat, metode, dan fasilitas lainnya yang
tradisional maupun modern.
Seorang manajer disebuah lembaga
pendidikan adalah seorang pimpinan penyelenggara pendidikan di lembaga
pendidikan tersebut. Dalam suatu sekolah, manajer dilembaga tersebut adalah
seorang kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan
yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Ketercapaian
tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepemimpinan
kepala sekolah yang merupakan salah satu pemimpin pendidikan. Kepala sekolah
merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang
bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru
dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.
Menjadi tenaga kependidikan yang
profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa adanya upaya untuk
meningkatkannya. Menurut Made Pidarta (2000:89) menyatakan bahwa seorang
penyelenggara pendidikan disebuah lembaga pendidikan mempunyai
kewajiban-kewajiban sebagai berikut:
1. Menjadi
manajer lembaga pendidikan tersebut dengan tugas-tugas sebagai berikut:
a.
Mengadakan prediksi tentang kemungkinan perubahan
lingkungan seperti perubahan ilmu dan teknologi, tuntutan hidup, aspirasi
masyarakat, dan sebagainya.
b.
Merencanakan dan melakukan inovasi dalam pendidikan.
c.
Menciptakan strategi dan kebijakan lembaga agar proses
pendidikan tidak mengalami hambatan.
d.
Mengadakan perencanaan dan menenukan sumber-sumber
pendidikan.
e.
Menyediakan dan mengkoordinasi fasilitas pendidikan.
f.
Melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan agar tidak
terlanjur membuat kesalahan.
2. Menjadi
pemimpin lembaga pendidikan:
a.
Memimpin semua bawahan.
b.
Memotivasi agar bekerja dengan rajin dan giat.
c.
Meningkatkan kesejahteraan bawahan.
d.
Mendisplikan para pendidik dan pegawai dalam
melkasnakan tugasnya.
3. Sebagai
supervisor atau pengawas:
a.
Mengawasi dan menilai cara kerja dan hasil kerja
pendidik dan pegawai.
b.
Memberi supervisi dalam meningkatkan cara kerja.
c.
Mencari dan memberi peluang untuk meningkatkan profesi
para pendidik.
d.
Mengadakan rapat-rapat untuk memperbaiki pendidikan
dan pengajaran.
4. Sebagai
pencipta iklim bekerja dan belajar yang kondusif dengan tugas-tugas:
a.
Menempatkan personalia secara benar sesuai dengan
keahlian dan keterampilannya.
b.
Membina hubungan personalia yang positif.
c.
Meningkatkan dan memperlancar komunikasi.
d.
Menyelesaikan konflik.
e.
Meningkatkan dan memelihara persatuan dan kesatuan
personalia.
5. Sebagai
pencipta lingkungan bekerja dan belajar yang kondusif, dengan tugas-tugas:
a.
Menghimpun dan memanfaatkan informasi tentang sumber
belajar.
b.
Memperkaya alat-alat belajar, alat-a;at peraga, dan
media pendidikan.
c.
Memperkaya lingkungan hidup.
d.
Mengharmoniskan lingkungan lembaga dan ruangan kelas.
6. Menjadi
administrator lembaga pendidikan dengan tugas menyelenggarakan kegiatan rutin
yang dioperasikan oleh para personalia lembaga:
a.
Mengendalikan struktur organisasi.
b.
Melaksanakan administrasi substantive.
c.
Melakukan pengawasan terhadap efektivitas dan
efisiensi kerja.
7. Menjadi koordinator
kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat:
a.
Berinisiatif membentuk suatu badan kerjasama.
b.
Mengadakan survey untuk menampung aspirasi masyarakat.
c.
Menghimpun dukungan masyarakat.
d.
Melaksanakan kerjasama dengan masayarakat.
Sedangkan fungsi manajer
adalah adalah sebagai berikut:
1.
Fungsi strukturalisasi, yaitu menetapkan
struktur kepegawaian terutama dalam penyusunan dan penempatan
personal, material, pekerjaan-pekerjaan, dan pikiran-pikiran didalam struktur
itu.
2.
Fungsi relation ship, yaitu menjalin hubungan dengan
pihak eksternal lembaga dengan mempertegas tugas, fungsi, kewajiban-kewajiban,
hak-hak, dan tanggung jawab masing-masing anggota yang di susun menjadi
pola-pola kegiatan yang tertuju pada tercapainya tujuan pendidikan.
3.
Fungsi integritas usaha-usaha suatu pendidikan, yang
dapat juga diartikan sebagai alat untuk mempersatukan usaha-usaha menyelesaikan
berbagai kegiatan lembaga pendidikan.
Dari penjelasan diatas dapat di simpulkan
bahwa tugas dan fungsinya menajer adalah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen,
yaitu merencanakan seluruh program kerja lembaga pendidikan secara
konseptual. Kepemimpinan manajer memegang peranan sangat penting dalam
perkembangan lembaga pendidikan.
Dalam
melaksanakan fungsinya sebagai manajer organisasi pendidikan, manajer harus
memiliki berbagai persyaratan tertentu agar ia dapat menjalankan tugasnya
dengan baik. Beberapa persyaratan tersebut diantaranya adalah
memiliki ijasah, kemampuan mengajar, dan kepribadian yang baik, serta memiliki
pengalaman bekerja pada lembaga yang sejenis.
2.2 Tugas telaah masalah bagi Manejer
Pada hakikatnya, manajer yang
memiliki keterampilan konseptual adalah manajer yang cerdas menelaah masalah
yang dihadapi. Permasalahan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan biasanya
tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor
lahirnya masalah adalah sebagai berikut.
1.
Faktor kepemimpinan suatu lembaga.
2.
Faktor penempatan manajer madya dan
manajer operasional yang kurang mahir.
3.
Faktor sarana dan prasarana yang kurang memadai.
4.
Faktor tujuan pendidikan yang ditetapkan.
5.
Faktor sumberdaya manusia.
6.
Faktor kurikulum dan filosofi yang tidak rasional.
7.
Faktor sumber dana bagi operasional lembaga pendidikan
8.
Faktor media pendidikan.
9.
Faktor lingkungan sekolah dan lingkungan eksternal
sekolah yang kurang menunjang.
10. Sistem yang
buruk dan manajemen yang buruk
Manajer yang akan mengambil
keputusan harus menelaah sistem manajemen yang selama ini
diterapkan, misalnya menelaah kinerja staf atau bawahannya. Tujuan dari suatu
telaah staf adalah membantu manajer dalam mengambil keputusan terhadap suatu
masalah tertentu yang dihadapi. Hasil yang diperoleh dari suatu penelaahan
adalah rekomendasi yang memuat alternatif yang perlu ditempuh didalam
memecahkan suatu permasalahan. Pada umumnya, suatu penelaahan memiliki
karakteristik tertentu, yaitu:
1.
Proses investigasi terhadap tujuan-tujuan lembaga
pendidikan yang telah dievaluasi dan hasilnya telah disempurnakan.
2.
Mengukur diri sendiri.
3.
Mencari alternative pemecahan masalah yang paling
memungkinkan.
4.
Perbandingan terhadap alternatif-alternatif yang
tersedia, terutama terhadap pengaruh yang ditimbulkannya.
5.
Pertimbangan aspek-aspek permasalahan yang dianggap
penting.
Dari penjelasan diatas dapat
disimpulkan bahwa tugas telaah masalah, kaitannya dengan tugas manajer,
terletak pada proses menentukan langkah-langkah pengambilan keputusan. Manajer
yang cerdas, cermat, dan bijaksana dalam pengambilan keputusan, terutama,
ketika menetapkan alternatif pemecahan
masalah adalah manajer yang mementingkan penelitian dan pengujian terhadap
berbagai alternatif yang ada. Pengambilan keputusan yang dilakukan
manajer harus mengacu pada pandangan-pandangan rasional dan kebijakan yang
telah dimusyawarahkan dengan seluruh bawahannya.
2.3 Tingkatan Manajemen Pendidikan
Menurut Kadarman (2001:45) menjelaskan
bahwa dalam organisasi kecil, menengah, besar maupun raksasa, tugas-tugas
manajemen adalah menggunakan sumber daya yang memiliki seoptimal mungkin,
dengan melakukan kegiatan yang efektif dan efisien sehingga tujuan organisasi
dapat dicapai. Kagiatan tersebut bermacam-macam, baik dilihat dari segi
bidangnya maupun keterampilan yang dibutuhkan.
Karena pendidikan, pengalaman,
keterampilan, dan daya pemahaman terhadap sasaran organisasi oleh masing-masing
tenaga kerja tidak sama diperlukan orang-orang tertentu yang bertugas
mengarahkan semua kegiatan organisasi untuk pencapaian tujuan organisasi. Orang
tersebut adalah manajer. Menurut tingkatannya dalam organisasi, ada tiga jenis
manajer yaitu:
1.
Manajer puncak (top managers).
2.
Manajer menengah (middle managers).
3.
Manajer garis pertama (first line managers).
Jenis-jenis manajer dapat dibedakan
menurut ruang lingkup kegiatan yang dikelola.
a.
Manajer fungsional (functional managers), yaitu
manajer yang hanya bertanggung jawab atas suatu kegiatan saja atau menjelankan
satu fungsi manajerial saja, misalnya manajer produksi/operasi, manajer
pemasaran, manajer keuangan, atau manejer SDM.
b.
Manajer umum (general managers), yaitu manajer yang
bertanggung jawab atas seluruh kegiatan dalam unitnya, seperti keuangan, pemasaran,
produksi/operasi, dan SDM.
Perlu diketahui bahwa di dalam
setiap organisasi, semakin tinggi tingkat manajernya, jumlahnya semakin
sedikit, dan sebaliknya. Selain itu, kerja sama yang baik dan harmonis antara
manajer dan karyawan mutlak diperlukan. Tanpa itu semua, akan terjadi beberapa
kerugian, terutama ketegangan-ketegangan dan pemborosan-pemborosan yang
akhirnya menghambat tercapai tujuan organisasi.
Setiap tingkatan manajemen atau
manajer dalam lembaga pendidikan harus memiliki tiga keterampilan utama.
Manurut Robert L. Kazn, tiga jenis keterampilan utama yang dibutuhkan oleh
semua tingkatan manajer, yaitu sebagai berikut:
1.
Keterampilan teknis (technical skill), adalah
kemampuan menggunakan alat-alat, prosedur, teknis suatu bidang yang khusus, misalnya
keterampilan dengan suatu cara pembuatan produk, pemeliharaan mesin, penjualan
produk, dan sebagainya. Kaitannya dengan lembaga pendidikan keterampilan
pimpinan perguruan tinggi atau sekolah contohnya adalah keterampilan membuat
satuan acara pembelajaran, membuat modul, membuat jadwal kuliah atau kalender
akademik.
2.
Keterampilan manusiawi (human skills), adalah
kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dan memotivasi orang lain, baik
sebagai individu maupun sebagai kelompok. Keterampilan ini sangat penting bagi
manajer agar ia dapat bekerja sama dengan anggota-anggota organisasi yang lain,
maupun memimpin rapat. Dalam lembaga pendidikan, keterampilan manusiawi sangat
penting karena guru berhubungan dengan murid, dosen dengan mahasiswa, dan pemimpin
berhubungan dengan seluruh anak buahnya.
3.
Keterampilan konseptual (conceptual skills), adalah
kemampuan untuk mengoordinasikan dan memadukan berbagai kepentingan dan
kegiatan organisasi ini mencakup kemampuan manajer untuk melihat organisasi
sebagai suatu keseluruhan dan memahami bagaimana perubahan pada setiap bagian
dapat memengaruhi keseluruhan organisasi. Keterampilan ini wajib dimiliki oleh
pimpinan pusat atau manajer puncak.
2.4 Sejarah perkembangan ilmu
manajemen
Perkembangan
pemikiran manajemen pada pedagang-pedagang Sumeria dan pembangun piramid Mesir
yaitu para pemilik budak selama berabad-abad menghadapi permasalahan
eksploitasi/memotivasi budak yang bergantung namun terkadang suka melawan
(memaksa otoritas), namun banyak perusahaan pra-industri dengan skala mereka
yang kecil, tidak merasa terdorong untuk menghadapi permasalahan manajemen
secara sistematis. Namun, inovasi seperti penyebaran sistem angka Hindu-Arab
(abad ke-5 hingga ke-15) dan kodifikasi kesekretariatan entri ganda (1494)
menyediakan perangkat untuk penilaian, perencanaan dan kendali manajemen abad
19.
Bidang
pelajaran manajemen berkembang dari ekonomi dalam abad 19 . Pelaku ekonomi
klasik Adam Smith dan John Stuart Mill memberikan teori-teori pengaturan sumber
daya, produksi dan penetapan harga. Pada saat yang hampir bersamaan, penemu
seperti Eli Whitney, James Watt dan Matthew Boulton mengembangkan teknik
produksi seperti, penetapan standar, prosedur kontrol kualitas, akuntansi
biaya, penukaran bahan, dan perencanaan kerja.
Pada
pertengahan abad 19, Robert Owen, Henry Poor, dan M. Laughlin dan lain-lain
memperkenalkan elemen manusia dengan teori pelatihan, motivasi, struktur
organisasi dan kontrol pengembangan pekerja. Pada akhir abad 19, pelaku ekonomi
marginal Alfred Marshall dan Leon Walras dan lainnya memperkenalkan lapisan
baru yang kompleks ke teori manajemen. Pada tahun 1900an manajer mencoba
mengganti teori mereka secara keseleruhan berdasarkan sains.
Abad 20 Teori
pertama tentang manajemen yang lengkap muncul sekitar tahun 1920. Orang seperti
Henry Fayol dan Alexander Church menjelaskan beberapa cabang dalam manajemen
dan hubungan satu sama lain.
Pada tahun 1940an, Patrick Blackett mengkombinasikan teori statistika dengan teori mikro ekonomi dan lahirlah ilmu riset operasi. Riset operasi, sering dikenal dengan “Sains Manajemen”, mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam manajemen, khususnya dibidang logistik dan operasi.
Mendekati akhir abad 20, manajemen terdiri dari beberapa bidang terpisah, termasuk:
Pada tahun 1940an, Patrick Blackett mengkombinasikan teori statistika dengan teori mikro ekonomi dan lahirlah ilmu riset operasi. Riset operasi, sering dikenal dengan “Sains Manajemen”, mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam manajemen, khususnya dibidang logistik dan operasi.
Mendekati akhir abad 20, manajemen terdiri dari beberapa bidang terpisah, termasuk:
1. Manajemen sumber daya.
2. Manajemen operasi atau produksi.
3. Manajemen strategi
4. Manajemen pemasaran.
5. Manajemen keuangan.
6.
Manajemen informasi
teknologi
Perkembangan ilmu manajemen
berjalan selaras, seiring dengan perkembangan dunia industri, dari langkah awal
hingga proses akhir. Dari
tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan
dengan sumber yang dimiliki.
2. Pengorganisasian (organizing), dilakukan dengan tujuan membagi suatu
kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil.
3. Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua
anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan
manajerial dan usaha-usaha organisasi. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah
kepemimpinan.
4. Pengevaluasian (evaluating) adalah proses pengawasan dan pengendalian
performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya perusahaan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar